Senin, 29 September 2014

Octaviani Saputri/19511265/4pa11

Sistem Informasi Psikologi

          Sebelum masuk ke permasalahan inti, sebaiknya kita harus terlebih dahulu mengenal arti dari kata sistem tersebut. Sistem merupakan kumpulan elemen-elemen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu. Suatu sistem terintegrasi yang mampu menyediakan informasi yang bermanfaat bagi penggunanya. Atau sebuah sistem terintegrasi atau sistem manusia-mesin, untuk menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajemen dalam suatu organisasi. Sistem ini memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak komputer, prosedur manual, model manajemen dan basis data. Adapun elemen dari sistem yaitu: input, proses, dan output.
Informasi yaitu data yang telah diproses menjadi bentuk yang memiliki arti bagi penerima dan dapat berupa fakta, suatu nilai yang bermanfaat. Jadi ada suatu proses transformasi data menjadi suatu informasi=input-proses-output. Data merupakan rawmaterial untuk suatu informasi. Perbedaan informasi dan data sangat relatif tergantung pada nilai gunanya bagi manajemen yang memerlukan. Suatu informasi bagi level manajemen tertentu bisa menjadi data bagi manajemen level di atasnya, atau sebaliknya.
Jadi, Sistem informasi adalah kumpulan elemen-elemen yang saling berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu dari data yang telah diproses menjadi bentuk yang memiliki arti bagi penerima dan dapat berupa fakta, suatu nilai yang bermanfaat.
            Sedangkan Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku baik manusia maupun hewan dalam proses mental organisasi. Jadi sistem informasi psikologi adalah suatu bidang kajian ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara ilmu psikologi itu sendiri dalam kaitannya dengan penggunaan komputer dan aplikasinya dalam bidang psikologi. Salah satu contohnya yaitu penggunaa komputer dalam pembuatan software-software untuk bidang psikologi. Misalnya saja, di perusahaan sekarang ini banyak menggunakan software tentang alat tes agar waktu yang digunakan dalam menyeleksi calon karyawan baru lebih cepat dan efisien, serta tidak membuang tenaga para penyeleksinya juga. Selain itu, contoh lainnya adalah dalam penggunaan software dari microsoft office, dimana yang dahulunya kita harus memakai mesin ketik untuk membuat surat atau membuat tulisan kita agar lebih rapih, tapi sekarang berkat adanya computer dan system informasi maka pekerjaan kita untuk membuat surat atau tulisan yang lain lebih cepat dan bahkan lebih rapih. Contoh lain dalam bidang psikologi yaitu penggunaan laboratorium psikologi dimana didalamnya menggunakan prinsip ilmu komputer, contohnya saja laboratorium kognitif sains yang mungkin sebentar lagi akan hadir di kampus Gunadarma. Contoh lain mungkin dengan sistem konseling online yang sekarang ini banyak beredar dan banyak hadir di situs jejaring sosial. Hal-hal diatas merupakan sebagian contoh penggunaan sistem informasi dalam bidang psikologi saat ini. Dimana, ilmu psikologi juga berkembang berkat adanya perkembangan yang sangat pesat dari ilmu komputer itu sendiri.

Sumber :
http://irene-blogqw.blogspot.com/2011/04/sistem-informasi-psikologi.html


Senin, 07 Juli 2014



Terapi kelompok, terapi keluarga, dan terapi bermain 

A. Terapi kelompok

1. Konsep Dasar: Pandangan terapi kelompok tentang kepribadian
   
       Terapi kelompok memandang bahwa manusia itu makhluk yang unik, dan dinamis, setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda. Setiap manusia memiliki problem yang berbeda-beda, oleh karena itulah setiap orang tidak sama dalam menangani suatu pemecahan masalah.

2. Unsur-unsur terapi: munculnya gangguan, tujuan terapi, dan peran terapis.

       a. Munculnya gangguan
            Terapi kelompok digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu.
       b. Tujuan terapi
             - Meningkatkan identitas diri
             - Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok terapis
             - Meningkatkan keterampilan hubungan sosial
             - Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
       c. Peran terapis
             Terapis harus memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.

3. Teknik-teknik terapi
     - Melibatkan para anggotanya untuk terbuka dan aktif
     - Terapis turut membantu klien untuk melepaskan segala kecanggungannya, agar lebih bisa terbuka dan menceritakan masalah yang dialaminya.
    - Berfokus pada satu topik permasalahan yang hendak diselesaikan pertama kali.


B. Terapi keluarga

1. Konsep dasar: Pandangan terapi keluarga tentang kepribadian
    Terapi keluarga mempunyai pandangan bahwa kepribadian manusia pertama kalinya dibentuk didalam lingkaran keluarga.

2. Unsur-unsur terapi: munculnya gangguan, tujuan terapi, dan peran terapis.

    a. Munculnya gangguan
        Terapi keluarga digunakan ketika permasalahan terkait dengan keluarga, seperti suami dengan istri- orang tua dengan anaknya, atau antar saudara.

    b. Tujuan terapi
        - Menurunkan konflik kecemasan keluarga
        - Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap kebutuhan masing-masing keluarga
        - Meningkatkan hubungan peran yang sesuai
        - Membantu keluarga untuk menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar keluarga

     c. Peran terapis
         Terapis melakukan pemahaman tentang arti dan peran dari masing-masing keluarga, serta membantu untuk meningkatkan peran serta keluarga agar kuat dalam menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar keluarga.


C.Terapi bermain

    1. Konsep dasar: Pandangan terapi bermain terhadap kepribadian
        Terapi ini lebih cocok diberikan kepada anak-anak yang berkebutuhan khusus, pandangan terapi bermain adalah setiap anak yang mempunyai kebutuhan khusus memiliki kepribadian yang relatif sama hanya penanganannya yang berbeda.


   2. Unur-unsur terapi: Munculnya gangguan, tujuan terapi, peran terapis.

       a. Munculnya gangguan
           Terapi diberikan ketika seorang anak mengalami gejala-gejala yang lain daripada anak lainya seperti hyperaktif.

       b. Tujuan terapi
            Mengembangkan gerak seorang anak (psyhcomotorik) serta adaptasi sosial seorang anak

        c. Peran terapis
             Terapis turut serta dalam permainan anak.

D. Review

    1. Terapi Psikoanalisa
          Tokoh: Sigmund Freud
          Teknik Terapi: Asosiasi Bebas

      2. Terapi Humanistik eksistensial
          Tokoh: Abraham Maslow
           Teknik Terapi: Hierarki Kebutuhan
     
      3. Person center therapy
          Tokoh: Carl Rogers
          Teknik terapi: Memberikan pengertian dan penerimaan pada klien mengenai dirinya yang utuh

     4. Logo Terapi
         Tokoh: Victor Frankl
         Teknik Terapi: Klien diajarkan bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan dan  makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi.

     5. Analisa Transaksional
         Tokoh: Eric Berne
         Teknik Terapi: Analisis Struktur, analisis terhadap status ego yang menjadi dasar struktur kepribadian klien yang terlihat dari respon atau stimulus klien dengan orang lain.

     6. Rational emotive therapy
         Tokoh: Albert Ellis
         Teknik Terapi: Assertive Adaptive, Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.

    7. Terapi Perilaku
        Tokoh: B.F Skinner
        Teknik Terapi: Pemodelan (modelling) yaitu mencotohkan dengan menggunakan belajar observational.

    8. Terapi Kelompok
        Tokoh: -
        Teknik Terapi: Melibatkan para anggotanya untuk terbuka dan aktif pada saat terapi

    9. Terapi Keluarga
        Tokoh: -
        Teknik Terapi: Klien akan diberikan hubungan peran yang sesuai.

    10. Terapi Bermain
          Tokoh: -
          Teknik Terapi: Diberikan permainan yang menuntut agar aktif bergerak psikomotoriknya.


Terapi kelompok, terapi keluarga, dan terapi bermain 

A. Terapi kelompok

1. Konsep Dasar: Pandangan terapi kelompok tentang kepribadian
   
       Terapi kelompok memandang bahwa manusia itu makhluk yang unik, dan dinamis, setiap manusia memiliki karakteristik yang berbeda. Setiap manusia memiliki problem yang berbeda-beda, oleh karena itulah setiap orang tidak sama dalam menangani suatu pemecahan masalah.

2. Unsur-unsur terapi: munculnya gangguan, tujuan terapi, dan peran terapis.

       a. Munculnya gangguan
            Terapi kelompok digunakan ketika klien tidak berhasil dalam penanganan secara terapi individu.
       b. Tujuan terapi
             - Meningkatkan identitas diri
             - Menyalurkan emosi dna membagi perasaan antar sesama didalam kelompok terapis
             - Meningkatkan keterampilan hubungan sosial
             - Meningkatkan kemampuan hidup mandiri
       c. Peran terapis
             Terapis harus memainkan peranan yang aktif dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.

3. Teknik-teknik terapi
     - Melibatkan para anggotanya untuk terbuka dan aktif
     - Terapis turut membantu klien untuk melepaskan segala kecanggungannya, agar lebih bisa terbuka dan menceritakan masalah yang dialaminya.
    - Berfokus pada satu topik permasalahan yang hendak diselesaikan pertama kali.


B. Terapi keluarga

1. Konsep dasar: Pandangan terapi keluarga tentang kepribadian
    Terapi keluarga mempunyai pandangan bahwa kepribadian manusia pertama kalinya dibentuk didalam lingkaran keluarga.

2. Unsur-unsur terapi: munculnya gangguan, tujuan terapi, dan peran terapis.

    a. Munculnya gangguan
        Terapi keluarga digunakan ketika permasalahan terkait dengan keluarga, seperti suami dengan istri- orang tua dengan anaknya, atau antar saudara.

    b. Tujuan terapi
        - Menurunkan konflik kecemasan keluarga
        - Meningkatkan kesadaran keluarga terhadap kebutuhan masing-masing keluarga
        - Meningkatkan hubungan peran yang sesuai
        - Membantu keluarga untuk menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar keluarga

     c. Peran terapis
         Terapis melakukan pemahaman tentang arti dan peran dari masing-masing keluarga, serta membantu untuk meningkatkan peran serta keluarga agar kuat dalam menghadapi tekanan dari dalam maupun dari luar keluarga.


C.Terapi bermain

    1. Konsep dasar: Pandangan terapi bermain terhadap kepribadian
        Terapi ini lebih cocok diberikan kepada anak-anak yang berkebutuhan khusus, pandangan terapi bermain adalah setiap anak yang mempunyai kebutuhan khusus memiliki kepribadian yang relatif sama hanya penanganannya yang berbeda.


   2. Unur-unsur terapi: Munculnya gangguan, tujuan terapi, peran terapis.

       a. Munculnya gangguan
           Terapi diberikan ketika seorang anak mengalami gejala-gejala yang lain daripada anak lainya seperti hyperaktif.

       b. Tujuan terapi
            Mengembangkan gerak seorang anak (psyhcomotorik) serta adaptasi sosial seorang anak

        c. Peran terapis
             Terapis turut serta dalam permainan anak.

D. Review

    1. Terapi Psikoanalisa
          Tokoh: Sigmund Freud
          Teknik Terapi: Asosiasi Bebas

      2. Terapi Humanistik eksistensial
          Tokoh: Abraham Maslow
           Teknik Terapi: Hierarki Kebutuhan
     
      3. Person center therapy
          Tokoh: Carl Rogers
          Teknik terapi: Memberikan pengertian dan penerimaan pada klien mengenai dirinya yang utuh

     4. Logo Terapi
         Tokoh: Victor Frankl
         Teknik Terapi: Klien diajarkan bahwa setiap kehidupan dirinya mempunyai maksud, tujuan dan  makna yang harus diupayakan untuk ditemukan dan dipenuhi.

     5. Analisa Transaksional
         Tokoh: Eric Berne
         Teknik Terapi: Analisis Struktur, analisis terhadap status ego yang menjadi dasar struktur kepribadian klien yang terlihat dari respon atau stimulus klien dengan orang lain.

     6. Rational emotive therapy
         Tokoh: Albert Ellis
         Teknik Terapi: Assertive Adaptive, Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan.

    7. Terapi Perilaku
        Tokoh: B.F Skinner
        Teknik Terapi: Pemodelan (modelling) yaitu mencotohkan dengan menggunakan belajar observational.

    8. Terapi Kelompok
        Tokoh: -
        Teknik Terapi: Melibatkan para anggotanya untuk terbuka dan aktif pada saat terapi

    9. Terapi Keluarga
        Tokoh: -
        Teknik Terapi: Klien akan diberikan hubungan peran yang sesuai.

    10. Terapi Bermain
          Tokoh: -
          Teknik Terapi: Diberikan permainan yang menuntut agar aktif bergerak psikomotoriknya.

Sabtu, 07 Juni 2014

  I. Analisis Transaksional (Eric Berne, 1960)
      A. Konsep dasar pandangan analisis transaksional tentang kepribadian.
      Analisis Transaksional merupakan salah satu pendekatan psikoterapi yang menekankan pada pendekatan hubungan interaksional. Transaksional itu sendiri berarti hubungan komunikasi seseorang dengan orang lain, adapun hal yang dianalisis yaitu bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi tersebut., dan dari hasil analisis komunikasi tersebut dapat ditarik kesimpulan, apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, benar, dan wajar.
     B. Unsur-unsur terapi
          1. Munculnya gangguan
              Diperlukan ketika seorang klien tidak punya rasa tanggung jawab atas tingkah lakunya sendiri, tidak mempunyai tujuan-tujuan yang realistis, tidak berkomunikasi secara terbuka, dan tidak paham berhubungan dengan orang lain.
          2. Tujuan terapis
          Konselor membantu klien dalam mengurangi kontaminasi status ego yang berlebihan, membantu mengembangkan kapasitas diri klien dalam menggunakan semua status egonya yang cocok, serta membantu klien untuk mengoptimalkan rencana hidup yang lebih produktif.
        3. Peran terapis
            Konselor berperan sebagai guru, pelatih, sahabat, narasumber, dan fasilitator yang bersikap terbuka, tanggung jawab, hangat, perhatian, dan tulus, agar klien mempercayai ego dewasanya sendiri, serta membantu klien agar terampil dalam melaksanakan hubungan antar pribadi dengan menggunakan status ego yang tepat.
    C. Teknik-teknik terapi analisis transaksional
         Dalam analisis transaksional, klien diarahkan agar klien berinteraksi dengan lingkungannya, karena itu dalam melaksanakan terapi ini konselor memfokuskan perhatian terhadap apa yang dikatakan klien kepada orang lain dan apa yang dikatakan orang lain kepada klien. Untuk itu, teknik-teknik yang biasa digunakan di analisis transaksional antara lain :
        1. Analisis struktur
        Analisis struktur maksudnya adalah analisis terhadap status ego yang menjadi dasar struktur kepribadian klien yang terlihat dari respons atau stimulus klien dengan orang lain
       2.      Analisis transaksional
     Konselor menganalisis pola transaksi dalam kelompok, sehingga konselor dapat mengetahui ego state yang mana yang lebih dominan dan apakah ego state yang ditampilkan tersebut sudah tepat atau  belum.
       3.   Analisis Mainan
    Analisis mainan adalah analisis hubungan transaksi yang terselubung antara Klien dengan konselor atau dengan Lingkungannya. Konselor menganalisis suasana permainan yang diikuti oleh klien untuk mendapat sentuhan, setelah itu dilihat apakah klien mampu menanggung resiko atau malah bergerak kearah resiko yang tingkatnya lebih rendah.
      4. Analisis Skript
     Analisis Skript ini merupakan usaha konselor untuk mengenal proses terbentuknya skript yang dimiliki klien. Analisis skript ini hendaknya sampai menyelidiki transaksi seseorang sejak dalam asuhan orang tua, pada masa ini terjadi transaksi antara orang tua dengan anak-anaknya. Dan pada akhirnya terbentuk suatu tujuan hidup dan rencana hidup (script atau naskah). Hal ini dilakukan apabila konselor sudah meyakini bahwasanya kliennya terjangkit posisi hidup yang tidak sehat.

II. RATIONAL EMOTIVE THERAPY (ELLIS)
Konsep Dasar Pandangan Rational Emotive Therapy Tentang Kepribadian
Terapi Emotif Rasional yang dikembangkan oleh Albert Ellis merupakan bagian dari terapi CBT (cognitive behavioral therapy) lebih banyak kesamaannya dengan terapi-terapi yang berorientasi kognitif-tingkah laku-tindakan dalam arti menitik beratkan pada proses berpikir, menilai, memuuskan, menganalisa dan bertindak. Konsep-konsep Terapi Emotif Rasional membangkitkan sejumlah pertanyaan yang sebaiknya, seperti: Apakah pada dasarnya psikoterapi merupakan proses reeduksi? Apakah sebaiknya terapis berfungsi terutama sebagai guru? Apakah pantas para terapis menggunakan propaganda, persuasi, dan saran-saran yang sangat direktif? Sampai mana membebaskan keefektifan usaha membebaskan para klien dari “keyakinan-keyakinan irasional” nya dengan menggunakan logika, nasihat, informasi, dan penafsiran-penafsiran.
Unsur-unsur Terapi:
Munculnya Gangguan
Terapi Emotif Rasional adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualkan diri. Akan tetapi manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan yang tidak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme dan mencela diri serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri. Manusia pun berkecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang disfungional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Terapi Emotif Rasional (TRE) adalah aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Manusia memiliki kecenderungan-kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan, mencintai, bergabung dengan orang lain, serta tumbuh dan mengaktualisasikan diri. Akan tetapi, manusia juga memiliki kecenderungan-kecenderungan ke arah menghancurkan diri, menghindari pemikiran, berlambat-lambat, menyesali kesalahan-kesalahan secara tak berkesudahan, takhayul, intoleransi, perfeksionisme, dan mencela diri, serta menghindari pertumbuhan dan aktualisasi diri.
Tujuan Terapi
Tujuan utama dari terapi ini yaitu meminimalkan pandangan yang mengalahkan diri dari klien dan membantu klien untuk memperoleh filsafat hidup yang lebih realistik. Terapi ini mendorong suatu reevaluasi filosofis dan ideologis berlandaskan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakar secara filosofis, dengan demikian Terapi Emotif Rasional tidak diarahkan semata-mata pada penghapusan gejala (Ellis, 1967), tetapi untuk mendorong klien agar menguji secara kritis nilai-nilai dirinya yang paling dasar. Jika masalah yang dihadirkan oleh klien adalah ketakutan atas kegagalan dalam perkawinan misalnya, maka sasaran yang dituju oleh seorang terapis bukan hanya pengurangan ketakutan yang spesifik itu, melainkan penanganan atas rasa takut gagal pada umumnya. Terapi Emotif Rasional (TRE) bergerak ke seberang penghapusan gejala, dalam arti tujuan utama.
Peran Terapis
Terapis yang bekerja dalam kerangka TRE fungsinya berbeda dengan kebanyakan terapis yang lebih konvensional. Karena TRE pada dasarnya adalah suatu proses terapeutik kognitif dan behavioral yang aktif dan direktif. TRE adalah suatu proses edukatif, dan tugas utama terapis adalah mengajari klien cara-cara memahami dan mengubah diri. Terapis terutama menggunakan metodologi yang gencar, sangat direktif, dan persuasif yang menekankan aspek-aspek kognitif. (Ellis, 1973) memberikan suatu gambaran tentang apa yang dilakukan oleh terapis TRE sebagai berikut:
mengajak klien untuk berpikir tentang beberapa gagasan dasar yang irasional yang telah memotivasi banyak gangguan tingkah laku;
menantang klien untuk menguji gagasan-gagasanya;
menunjukkkan kepada klien ketidaklogisan pemikirannya;
menggunakan suatu analisis logika untuk meminimalkan keyakinan-keyakinan irasional klien;
menunjukkan bahwa keyakinan-keyakinan itu tidak ada gunanya dan bagaimana keyakinan akan mengakibatkan gangguan-gangguan emosional dan tingkah laku di masa depan;
menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi irasionalitas pikiran klien;
menerangkan bagaimana gagasan-gagasan yang irasional bisa diganti dengan gagasan-gagasan yang rasional yang memiliki landasan empiris;
mengajari klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah pada cara berpikir sehingga klien bisa mengamati dan meminimalkan gagasan-gagasan yang irasional dan kesimpulan-kesimpulan yang tidak logis sekarang maupun pada masa yang akan datang, yang telah mengekalkan cara-cara merasa dan berperilaku yang dapat merusak diri.
Teknik-teknik Rational Emotive Therapy
a. Assertive adaptive
Teknik yang digunakan untuk melatih, mendorong, dan membiasakan klien untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan tingkah laku yang diinginkan. Latihan-latihan yang diberikan lebih bersifat pendisiplinan diri klien.
b. Bermain peran
Teknik untuk mengekspresikan berbagai jenis perasaan yang menekan (perasaan-perasaan negatif) melalui suatu suasana yang dikondisikan sedemikian rupa sehingga klien dapat secara bebas mengungkapkan dirinya sendiri melalui peran tertentu.
c. Imitasi
Teknik untuk menirukan secara terus menerus suatu model tingkah laku tertentu dengan maksud menghadapi dan menghilangkan tingkah lakunya sendiri yang negatif.

III.  TERAPI PERILAKU (BEHAVIOR THERAPY)
A.  Konsep Dasar, Pandangan, Perilaku Tentang Kepribadian
Terapi behavioral atau terapi perilaku berasal dari dua konsep yakni dari Ivan Pavlov dan B.F. Skinner. Mula-mula terapi ini dikembangkan oleh Wolpe (1985) untuk menanggulangi (treatment) neurosis.
Terapi perilaku adalah penggunaan prinsip dan paradigma belajar yang ditatpkan secara eksperimental untuk mengatasi perilaku tidak adaptif. Dalam prakteknya, terapi perilaku adalah penekanan pada analisis perilaku untuk menguji secara sistematik hipotesis mana terapi didasarkan.

B.  Unsur - Unsur Terapi
1.   Munculnya Gangguan
Dimana landasan pijakan terapi tingkah laku ini yaitu pendekatan behavioristik, pendekatan  ini menganggap bahwa “Manusia pada dasarnya dibentuk dan ditentukan oleh lingkungan sosial budayanya. Segenap tingkah laku manusia itu dipelajari”. Ini merupakan anggapan dari behavioristik radikal. Namun behavioristik yang lain yaitu behavioristik kontemporer, yang merupakan perkembangan dari behavioristik radikal menganggap bahwa setiap individu sebenarnya memiliki potensi untuk memilih apa yang dipelajarinya. Ini bertentangan dengan prinsip behavioris yang radikal, yang menyingkirkan kemungkinan individu menentukan diri.

2.  Tujuan Terapi
-       Mengubah perilaku yang tidak sesuai pada klien
-       Membantu klien belajar dalam proses pengambilan keputusan secara lebih efisien.
-       Mencegah munculnya masalah di kemudian hari.
-       Memecahkan masalah perilaku khusus yang diminta oleh klien.
-       Mencapai perubahan perilaku yang dapat dipakai dalam kegiatan kehidupannya.

3.  Peran Terapis
Menurut Corey (1996) terapis dalam  memegang peranan aktif dan direktif dalam pelaksanaan proses terapi. Dalam hal ini terapis harus mencari pemecahan masalah klien. Fungsi utama terapis adalah bertindak sebagai guru, pengarah, penasihat, konsultan, pemberi dukungan, fasilitator, dan mendiagnosis tingkah laku maladaptif klien dan mengubahnya menjadi tingkah laku adaptif. Terapis pada behavior therapy memperhatikan tanda-tanda apapun yang diberikan klien, dan mereka bersedia untuk mengikuti prosedur terapi.
Fungsi penting terapis lainnya adalah sebagai role model bagi klien. Bandura (dalam Corey, 1996) mengatakan kebanyakan belajar itu terjadi melalui pengalaman langsung. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa proses fundamental yang paling memungkinkan klien dapat mempelajari tingkah laku baru adalah melalui proses imitasi. Terapis dijadikan model pribadi yang ingin ditiru oleh klien karena cenderung memandang terapis sebagai orang yang patut untuk diteladani. Klien sering kali meniru sikap, nilai dan tingkah laku terapis. Untuk itulah, seorang terapis diharapkan menyadari perannya yang begitu penting dalam terapi sehingga tidak memunculkan perilaku yang tidak semstinya untuk ditiru.

C.  Teknik - Teknik Terapi Perilaku
Terapis menggunakan teknik seperti summarizing, reflection, klarifikasi, dan pertanyaan terbuka. Goldfried dan Davidson (dalam Corey, 1996) mengatakan bahwa, akan tetapi terdapat dua fungsi yang membedakan klinisi behavioral: mereka fokus pada hal-hal spesifik, dan mereka secara sistematis berusaha untuk mendapatkan informasi tentang situasi antecedents, dimensi dari masalah-masalah perilaku, dan konsekuensi dari masalah.

Sumber :
-         - Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.
-    - Frankl. Emil. 2004. On the theory and therapy of mental disorders: an introduction to logotherapy and existential analysis. Brunner-Routledge 270 Madison Avenue. New York.

Minggu, 27 April 2014

TERAPI HUMANISTIK EKSISTENSIAL

I. Terapi Humanistik Eksistensial

 a.      Konsep dasar pandangan humanistik eksistensial tentang kepribadian
Merupakan suatu pendekatan yang berusaha mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, yakni memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi. Selain itu pendekatan ini memberikan kontribusi besar dalam bidang psikologi, yakni tentang penekanannya terhadap kualitas manusia terhadap manusia yang lain dalam prosesnya.
 b.      Unsur-unsur terapi
1.      Munculnya gangguan
Ketika kondisi-kondisi inti manusia mulai berubah, serta munculnya kecemasan-kecemasan terus-menerus, tidak bisa mengaktulaisasikan potensi diri, dan tidak bisa menyadari potensi-potensi diri yang dimiliki.
2.      Tujuan terapi
-          Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan diri dan pertumbuhan.
-          Mengapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi dalam membantuk klien.
-          Membantu klien dalam menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dan memperluas kesadaran diri.
-          Membantuk klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupan sendiri.
3.      Peran Terapis
-          Terapis berusaha untuk menekankan dan mendahulukan pemahaman (insight) klien agar bisa masuk ke dalam alam bawah sadar klien.
-          Kemudian terapis mulai mulai memberikan stimulus berupa sugesti-sugesti kepada klien tentang potensi diri yang dimiliki.
c.   Teknik-teknik terapi humanistik eksistensial
-          Klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
-          Klien dibantu dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia.
-          Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima.
-          Klien diajak untuk berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka, kemudian klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang konkrit, klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan.

II. Person Therapy Centered (Carl Rogers)

a.    Konsep Dasar Pandangan Carl Rogers tentang Kepribadian
Carl Ransom Rogers (1961), seorang tokoh utama dalam penciptaan psikologi humanistik, membangun teori dan praktek terapinya di atas konsep tentang “pribadi yang berfungsi penuh”. Carl R. Rogers (1902-1987) menjadi terkenal berkat metoda terapi yang dikembangkannya, yaitu terapi yang berpusat pada klien (client-centered therapy). Tekniknya tersebar luas di kalangan pendidikan, bimbingan, dan pekerja sosial. Pandangan client centered tentang sifat manusia menolak konsep tentang kecenderungan-kecenderungan negative dasar. Sementara beberapa pendekatan beranggapan bahwa manusia menurut kodratnya adalah irasional dan berkecenderungan merusak terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain kecuali jika telah menjalani sosialisasi. Rogers menunjukan kepercayaan yang mendalam pada manusia. Ia memandang manusia terisolasi dan bergerak ke muka, berjuang untuk berfungsi penuh, serta memiliki kebaikan yang positif pada intinya yang terdalam.
b.     Unsur-unsur Terapi
1.      Munculnya Gangguan
Rogers memandang kesehatan mental sebagai proses perkembangan hidup alamiah, sementara penyakit jiwa, kejahatan, dan persoalan kemanusiaan lain dipandang sebagai penyimpangan dari kecenderungan alamiah.
Teori Rogers didasarkan pada suatu "daya hidup" yang disebut kecenderungan aktualisasi. Kecenderungan aktualisasi tersebut diartikan sebagai motivasi yang menyatu dalam setiap diri makhluk hidup dan bertujuan mengembangkan seluruh potensinya semaksimal mungkin. Jadi, makhluk hidup bukan hanya bertujuan bertahan hidup saja, tetapi ingin memperoleh apa yang terbaik bagi keberadaannya. Dari dorongan tunggal inilah, muncul keinginan-keinginan atau dorongan-dorongan lain yang disebutkan oleh psikolog lain, seperti kebutuhan untuk udara, air, dan makanan, kebutuhan akan rasa aman dan rasa cinta, dan sebagainya.
2.      Tujuan Terapi
Terapi terpusat pada klien yang dikembangkan oleh Carl R Rogers pada tahun 1942 bertujuan untuk membina kepribadian klien secara integral, berdiri sendiri, dan mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah sendiri. Kepribadian yang integral adalah struktur kepribadiannya tidak terpecah artinya sesuai antara gambaran diri yang ideal (ideal-self) dengan kenyataan diri sebenarnya (actual-self). Kepribadian yang berdiri sendiri atas dasar tanggung jawab dan kemampuan. Tidak bergantung pada orang lain. Sebelum menentukan pilihan tentu individu harus memahami dirinya (kekuatan dan kelemahan diri) dan kemudian keadaan diri tersebut harus ia terima.
3.      Peran Terapis
Carl Rogers terkenal dengan kontribusinya terhadap metode terapi. Terapi yang dia praktikan memiliki dua nama yang sama-sama dia pakai. Awalnya dia menyebut metodenya dengan non-direktif, sebab dia berpendapat seorang terapis tidak seharusnya tidak mengarahkan kliennya, akan tetapi membebaskan klien mengarahkan sendiri ke mana terapi akan berujung. Semakin banyak pengalaman yang dia peroleh selama terapi, seorang terapis akan semakin menyadari bahwa dia masih tetap memiliki pengaruh pada kliennya justsru karena dia sama sekali tidak mengarahkannya. Kemudian Rogers mengganti istilah ini dengan metode yang terpusat pada klien. Dia tetap menganggap klienlah yang seharusnya menyatakan apa yang salah pada dirinya, berusaha memperbaikinya sendiri, dan menentukan kesimpulan apa yang akan dihasilkan proses terapi-terapi ini akan tetap “terpusat pada klien” meskipun dia menyadari betul pengaruh terapis terhadap dirinya. Salah satu ungkapan yang dipakai Rogers dalam menggambarkan bagaimana cara kerja metode terapinya ini adalah “berusahalah mendorong dan mendukung, jangan mencoba merekonstruksi”, dan dia juga mencontohkan dengan proses belajar mengendarai sepeda. Satu-satunya teknik yang dikemukakan Rogers untuk menjalankan metode tersebut adalah refleksi. Refleksi adalah pemantulan komunikasi perasaan. Kalau klien berkata saya merasa tidak berguna, maka si terapi bisa memantulkan hal ini kembali pada klien .
c.     Teknik Terapi
Penekanan masalah ini adalah dalam hal filosofis dan sikap konselor ketimbang teknik, dan mengutamakan hubungan konseling ketimbang perkataan dan perbuatan konselor. Implementasi teknik konseling didasari oleh paham filsafat dan sikap konselor tersebut. Karena itu teknik konseling Rogers berkisar antara lain pada cara-cara penerimaan pernyataan dan komunikasi, menghargai orang lain dan memahaminya (klien). Karena itu dalam teknik amat digunakan sifat-sifat konselor berikut:
-       Acceptance artinya konselor menerima klien sebagaimana adanya dengan segala masalahnya. Jadi sikap konselor adalah menerima secara netral.
-      Congruence artinya karakteristik konselor adalah terpadu, sesuai kata dengan perbuatan dan konsisten.
-       Understanding artinya konselor harus dapat secara akurat dan memahami secara empati dunia klien sebagaimana dilihat dari dalam diri klien itu.
-      Nonjudgemental artinya tidak member penilaian terhadap klien, akan tetapi konselor selalu objektif.

III. LogoTherapy (Frankl)

a.    Konsep dasar pandangan Farnkl tentang kepribadian
Konsep logotherapi
-  Kehidupan memiliki makna dalam keadaan apapun, termasuk dalam penderitaan.
-  Manusia memiliki suatu kehendak untuk hidup bermakna yang merupakan motivasi utama untuk hidup.
-  Kita memiliki kebebasan untuk menemukan makna hidup melalui apa yang dikerjakan, apa yang dihayati, atau sekurang-kurangnya dalam sikap yang kita ambil atas situasi dan penderitaan yang tak dapat diubah lagi.
Sebagai satu metode terapi, logoterapi eksistensial menolong klien untuk mencari dan menemukan ‘makna eksistensi diri yang sepenuhnya’. Hal ini berarti menolong klien bukan hanya untuk melihat kemungkinan-kemungkinan dari nilai hidup yang memberi makna tetapi juga menemukan relevansi dari nilai-nilai tersebut dalam kehidupan peribadinya.
b.     Unsur-unsur Terapi
1.      Munculnya Gangguan
Logoterapi menggunakan teknik tertentu untuk mengatasi phobia (rasa takut yang berlebihan), kegelisahan, obsesi tak terkendali dari pemakai obat-obatan terlarang. Selain itu juga termasuk untuk mengatasi kenakalan remaja, konsultasi terhadap masalah memilih pekerjaan dan membantu semua masalah dalam kehidupan.Jika dikaitkan dengan konseling maka Konseling logoterapi suatupendekatan yang digunakan untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). 
2.      Tujuan Terapi
Terapi Logo (Logo Therapy) bertujuan agar dalam masalah yang dihadapi klien dia bisa menemukan makna dari penderitaan dan kehidupan serta cinta. Dengan penemuan itu klien akan dapat membantu dirinya sehingga bebas dari masalah tersebut.
3.      Peranan Terapis
 Menurut Semiun (2006) terdapat beberapa peranan terapis :
1. Menjaga hubungan yang akrab dan pemisahan ilmiah.
2. Mengendalikan filsafat pribadi
3. Terapis bukan guru atau pengkhotbah
4. Memberi makna lagi pada hidup
5. Memberi makna lagi pada penderitaan
6. Menekankan makna kerja
7. Menekankan makna cinta
b.     Teknik-teknik dalam Terapi:
 1.  Paradoxical Intention  (pembalikan keinginan) 
Teknik  paradoxical intention  pada dasarnya memanfaatkan kemampuan mengambil jarak (self detachment) dan kemampuan mengambil sikap terhadap kondisi diri sendiri (biologis dan psikologis) dan lingkungan.
Titik tolak dari  paradoxical intention ada dua: pertama adalah kesanggupan manusia untuk bebas bersikap atau mengambil jarak terhadap diri sendiri, termasuk didalamnya sikap terhadap tingkah laku dan masalah-masalah yang dihadapinya.
Kedua adalah, bahwa kesengajaan yang memaksa untuk menghindari sesuatu semakin mendekatkan individu kepada sesuatu yang ingin dihindarinya, dan kesengajaan yang memaksa untuk mencapai sesuatu semakin menjauhkan individu dari sesuatu yang ingin dicapainya.
2.   De-reflection  (meniadakan perenungan)
Derefleksi memanfaatkan kemampuan transendensi diri (self-transcendence) yang ada pada setiap manusia dewasa. Artinya kemampuan untuk membebaskan diri dan tak memperhatikan lagi kondisi yang tak nyaman untuk kemudian lebih mencurahkan perhatian kepada hal-hal lain yang positif dan bermanfaat.
 Gofryd Kaczanowski yang intinya menyebutkan bahwa derefleksi adalah suatu teknik terapi yang kurang spesifik, lebih sulit namun lebih logoterapeutik dibanding dengan intensi paradoksikal.Ada suatu teknik dari Herbert dan William (2003) yang kurang lebih sama dengan derefleksi, namun mempunyai tujuan yang berbeda yaitu memasrahkan diri. Menurutnya sikap ini perlu pada saat kita sudah berada pada batas kemampuan dan jalan buntu. Karena sikap  pasrah total dapat memutuskan ikatan masa lalu, membawa anda pindah dari pola pikiran yang merusak, dan menuju kinerja yang lebih baik.
3.  Bimbingan Rohani
Bimbingan rohani kirannya bisa dilihat sebagai ciri paling menonjol dari logoterapi sebagai psikoterapi berwawasan spiritual. Sebab bimbingan rohani merupakan metode yang secara eksklusif diarahkan pada unsur rohani atau roh, dengan sasaran pemenuhan makna oleh individu atau pasien melalui realisasi nilai-nilai terakhir yang bisa ditemuinya, nilai-nilai bersikap. Jelasnya bimbingan rohani merupakan metode yang khusus digunakan pada penanganan kasus dimana individu dalam penderitaan karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan atau nasib buruk yang tidak bisa diubahnya, tidak lagi mampu berbuat selain menghadapi dengan cara mengembangkan sikap yang tepat dan positif terhadap penderitaan itu.
4. Ekstensial Analisis
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
Dalam analisis eksistensial, psikolog tidak mengarahkan, membimbing, atau menilai klien berdasarkan praduga-praduga. Tugas psikolog hanyalah membantu klien menjadi dirinya yang otentik.

Sumber :
Bastaman, H.D. 2007. Logoterapi “Psikologi untuk Menemukan Makna Hidup dan Meraih Hidup Bermakna”. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Frankl. Emil. 2004. On the theory and therapy of mental disorders: an introduction to logotherapy and existential analysis. Brunner-Routledge 270 Madison Avenue. New York.
Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Bandung. PT.Refika. Aditama.