Hubungan Interpersonal, Cinta dan Perkawinan
A.
Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita
berkomunikasi, kita bukan sekedar
menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita
berkomunikasi kita tidak hanya menentukan kadar melainkan juga
menentukan hubungan.
1.
Menjelaskan Model Pertukaran Sosial & Analisis Transaksional
Pertukaran Sosial
Teori pertukaran sosial adalah salah satu
teori sosial yang mempelajari bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain
, kemudian seseorang itu menentukan keseimbangan antara pengorbanan dan
keuntungan yang didapatkan dari hubungan itu . Setelah seseorang menentukan
keseimbangannya , ia akan menentukan jenis hubungan dan kesempatan memperbaiki
hubungan / tidak sama sekali.
Analisis Transaksional
Analisis Transaksional ( AT ) adalah
salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan
interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama
untuk pendekatan kelompok. Analisis Transaksional ( AT ) dikembangkan oleh Eric
Berne tahun 1960 yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Berne adalah
seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Pendekatan analisis
transaksional ini berlandaskan teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis
struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis
terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan
anak.
Pada dasarnya teori analisis transaksional
berasumsi bahwa orang - orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri,
berpikir, dan memutusakan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan -
perasaannya.
2. Menjelaskan Pembentukan Kesan & Ketertarikan
Interpersonal Dalam Memulai Hubungan
Ellen Berscheid, menyatakan bahwa
apa yang membuat orang - orang dari berbagai usia merasa bahagia, dari daftar
jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi adalah membangun dan
mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif serta hangat.
Tiadanya hubungan yang bermakna dengan orang - orang lain membuat individu
merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan.
Ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron menyatakan bahwa motivasi utama manusia
adalah ’ ekspresi diri ’ (self expression).
Penyebab ketertarikan, dimulai dari awal rasa suka hingga
cinta berkembang dalam hubungan yang erat meliputi :
- Aspek
kedekatan
- Kesamaan
- Kesukaan
timbal balik
- Ktertarikan
fisik dan kesukaan
Teori Ketertarikan Interpersonal :
- Social Exchange Theory
Teori ini mengacu pada pernyataan sederhana bahwa relasi
berlangsung mengikuti model ekonomi ‘costs and benefits’ seperti kondisi
pasar, yang telah diperluas oleh para psikolog dan sosiolog menjadi teori
pertukaran sosial ( social exchange theory ) yang lebih kompleks.
Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa perasaan orang
tentang suatu hubungan tergantung pada persepsinya mengenai hasil positif ( rewards
) dan ongkos ( costs ) hubungan,
jenis hubungan yang mereka jalani, dan kesempatan mereka untuk memiliki
hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
- Equity Theory
Beberapa peneliti mengritik teori pertukaran sosial yang
mengabaikan pentingnya keadilan atau keseimbangan dalam hubungan. Para
pendukung teori ini berpendapat bahwa orang tidak sekedar berusaha mendapatkan rewards
sebanyak - banyaknya dan mengurangi costs, melainkan juga peduli
mengenai keseimbangan dalam hubungan, yaitu bahwa rewards dan costs yang
mereka alami dan kontribusi yang mereka berikan dalam hubungan tersebut kira - kira
seimbang dengan pihak lain. Teori ini menggambarkan bahwa hubungan yang
seimbang adalah yang membahagiakan dan relatif stabil.
3. Menjelaskan Peran , Konflik dan Adequacy Peran,
Autensitas Dalam Hubungan Peran.
Peran
Terdapat empat asumsi yang mendasari
pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai - nilai
social, yang kedudukannya sejajar dengan model - model mengajar lainnya.
Keempat asumsi tersebut sebagai berikut :
1. Secara
implicit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman. Model
ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan
analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogy yang diwujudkan
dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional
sambil belajar dari respons orang lain.
2. Bermain
peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang
tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan
untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama ( jenis
bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan ).
3. Model
bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar
untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu
datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat
terhadap masalah yang sedang diperankan.
4. Model
bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap,
nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui
kombinasi pemeranan secara spontan.
Konflik
Adanya pertentangan yang timbul di
dalam seseorang ( masalah intern ) maupun dengan orang lain ( masalah ekstern )
yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupad perselisihan, adanya ketegangan,
atau munculnya kesulitan - kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih.
Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada
mana pihak - pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang
dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing - masing.
Adequancy Peran & Autentisitas
Dalam Hubungan Peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan
pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal
maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan
harapan peran yang menerangkan apa yang individu - individu harus lakukan dalam
suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan - harapan mereka sendiri
atau harapan orang lain menyangkut peran - peran tersebut.
4. Menjelaskan Intimasi & Hubungan Pribadi
Kebutuhan intimacy merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan orang lain dan
merupakan kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui seseorang
secara lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling bertukar pendapat,
keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan saling memiliki sehingga
terjalin keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Faktor penyebab intimacy :
- Keluasan : seberapa banyak aktifitas yg dilakukan bersama
- Keterbukaan : adanya saling keterbukaan diri
- Kedalaman : saling berbagi
Proses terbentukan intimacy :
Penerimaan diri Saling
berinteraksi memberi respon atau tanggapan perhatian rasa percaya
kasih sayang mempunyai minat yang sama berhubungan seksual.
5. Menjelaskan Intimasi & Pertumbuhan
Apapun alasan untuk berpacaran,
untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak
akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa
kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri
sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita.
Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan
demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.
Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin
diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita
menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita
berbeban. Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun,
respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita.
Hal ini dapat disebabkan karena :
(1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita
secara utuh
(2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah
persiapan memasuki pernikahan
(3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang
dapat dipercaya untuk memegang rahasia
(4) kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup
(5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus .
B. Cinta dan Perkawinan
Kebanyakan orang menyukai cerita
cinta, termasuk cerita mereka sendiri. Cinta, bagi beberapa orang, merupakan
candu kelekatan yang kuat, mencemaskan, dan penuh ketergantungan. Kisah-kisah
yang sudah dimulai, sulit diubah karena akan melibatkan interpretasi dan
organisasi ulang atas semua yang pasangan telah pahami tentang hubungan mereka
(Stenberg, 1995). Menurut subteori Stenberg yang lain, subteori segitiga cinta (triangular
subtheory of love) bahwa pola cinta berkisar pada keseimbangan antara tiga
elemen yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Selama dua abad ini, pada
masyarakat barat dan beberapa non-barat (Goleman, 1992), pernikahan telah
dibangun atas dasar cinta. Peribahasa “sifat saling berlawanan saling membuat
tertarik” tidak lahir dari penelitian, tapi tidak juga berarti bahwa orang
dewasa memilih pasangan yang serupa dengan mereka.
1. Bagaimana
memilih pasangan?
Secara historis dan di semua penjuru budaya, cara
yang paling lazim memilih pasangan adalah perjodohan, baik oleh orang tua atau
pencari jodoh professional. Baru pada masa modern kebebasan memilih pasangan
berdasarkan rasa cinta menjadi norma di dunia barat (Broude, 1994;Ingoldsby,
1995). Menurut Stenberg, pasangan cenderung merasa paling bahagia ketika
segitiga mereka cukup mendekati cocok (Stenberg, dalam proses cetak). Pasangan
menikah bahagia hanya sedikit cocok pada agreeableness
dan tidak pada dimensi kepribadian yang lain. Pasangan yang tidak bahagia
menunjukkan korelasi yang jauh lebih lemah, baik positif maupun negative.
Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kemiripan atau perbedaan kepribadian
sedikit berhubungan dengan pemilihan pasangan atau dengan kecenderungan
kebahagiaan pernikahan (Gattis et al., 2004). Disisi lain, penelitian
Longitudinal Seattle (the Seattle
Longitudinal Study), suatu penelitian besar tentang kecerdasan orang
dewasa, menemukan fungsi intelektual yang sangat mirip pada pasangan menikah
(Schaie, 2005).
2. Seluk
beluk hubungan dalam perkawinan
Di kebanyakan masyarakat, lembaga pernikahan dianggap
cara terbaik untuk memastikan anak dibesarkan secara baik-baik. Pernikahan
memungkinkan pembagian tugas di dalam satuan penggunaan sumber daya dan kerja.
Idealnya, pernikahan memberikan keintiman, komitmen, persahabatan, afeksi,
pemuasan seksual, dan kesempatan untuk pertumbuhan emosional, juga sebagai
sumber identias dan harga diri (Gardiner & Kosmitzky, 2005; Myers, 2000).
Dalam beberapa tradisi filsafat Timur tertentu, pernikahan yang harmonis antara
laki-laki dan perempuan dianggap penting demi pemuasan spiritual dan bertahan
hidupnya spesies (Gardiner & Kosmitzky, 2005). Kini, di banyak bagian
Negara-negara industry, keuntungan-keuntungan penting pernikahan, seperti
ekspresi seksual, keintiman, dan keamanan ekonomi, tidak terbatas oleh pernikahan.
Memang, dengan perubahan pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan,
meningkatnya kohabitasi, perceraian, dan pernikahan kembali, dan membesarkan
anak diluar pernikahan, dan gerakan meligitimasi pernikahan sesama jenis,
seorang peniliti (Cherlin, 2004) melihat tren menuju deinstitusionalisasi
pernikahan melemahnya norma-norma social yang sebelumnya membuat pernikahan
hampir dipahami secara universal.
3. Penyesuaian
dan pertumbuhan dalam perkawinan
Orang-orang yang menikah cenderung lebih bahagia
daripada orang yang tidak menikah, walaupun mereka yang pernikahannya tidak
membahagiakan lebih tidak bahagia daripada mereka yang tidak menikah atau
bercerai (Myers, 2000).
4. Perceraian
dan pernikahan kembali
Makin tinggi penghasilan perempuan, makin kecil
kemungkinan ia bertahan di pernikahan yang buruk dan perempuan sekarang lebih
cenderung menginisiasi perceraian daripada laki-laki. Menurut sebuah survei
telepon acak terhadap 1.704 individu menikah, kemungkinan terbesar yang mana
pun dari pasangan menyebut-nyebut perceraian terjadi ketika sumber daya ekonomi
pasangan kurang lebih setara dan tanggung jawab finansial mereka antara satu
sama lain relatif kecil (Rogers, 2004). Perceraian melahirkan lebih banyak
perceraian. Orang dewasa dengan orang tua yang bercerai lebih cenderung
mengantisipasi bahwa pernikahan mereka tidak akan bertahan (Glenn &
Marguardt, 2001). Perceraian bukanlah peristiwa tunggal. Perceraian merupakan
suatu proses. Mengakhiri bahkan sebuah pernikahan yang tidak bahagia dapat
menyakitkan, terutama bila melibatkan anak. Perceraian cenderung mengurangi
kesejahteraan jangka panjang, terutama bagi pihak pasangan yang tidak
memprakarsai perceraian atau tidak menikah kembali. Satu faktor penting dalam
penyesuaian diri adalah pelepasan emosional dari bekas pasangan.
Pernikahan
kembali, kata penulis esei Samuel Johnson, “adalah kemenangan harapan atas
pengalaman. Secara internasional, angka pernikahan kembali tinggi dan meningkat
(Adams, 2004). Keluarga tiri dibangun bukan saja oleh pernikahan kembali tapi
juga mulai bertambah oleh mereka yang melakukan kohabitasi. Makin kini
pernikahan yang baru dan makin tua anak-anak tiri, makin sulit tampaknya
menjadi orang tua tiri. Tetap saja, keluarga tiri berpotensi memberikan suasana
yang hangat dan mengasuh, seperti keluarga mana pun yang menyayangi semua
anggota keluarganya.
5. Alternatif
selain pernikahan “membujang (single life)”
Walaupun
ada dewasa awal yang tetap melajang karena mereka belum menemukan pasangan yang
tepat, yang lain melajang karena memilih. Makin banyak perempuan sekarang
menunjang diri sendiri, dan terdapat lebih sedikit desakan untuk menikah. Beberapa
orang ingin tetap bebas mengambil risiko, bereksperimen, dan melakukan berbagai
perubahan, berpindah-pindah antara Negara/dunia, mengejar karier, melanjutkan
pendidikan mereka/melakukan pekerjaan kreatif tapi harus menguatirkan bagaimana
petualangan mereka pemenuhan diri mereka memengaruhi orang lain. Beberapa menikmati
kebebasan seksual. Beberapa menganggap gaya hidup tersebut menggairahkan. Beberapa
sekedar senang menyendiri dan beberapa menunda/menghindari pernikahan karena
takut bahwa pernikahan akan berakhir dengan perceraian. Penundaan masuk akal
karena, seperti kita akan lihat, makin muda seseorang ketika menikah, makin
besar kemungkinan mereka berpisah.
Sumber :
http://shafashan15.blogspot.com/2012/04/hubungan-interpersonal.html
Adhim, Mohammad Fauzil (2002) Indahnya
Perkawinan Dini Jakarta: Gema Insani Press (GIP)
Feldman,
Papalia Olds Human Development:
Salemba Humanika