Rabu, 29 Mei 2013

Hubungan Interpersonal, Cinta dan Perkawinan

A. Hubungan Interpersonal
Hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan kadar melainkan juga menentukan hubungan.

1. Menjelaskan Model Pertukaran Sosial & Analisis Transaksional

Pertukaran Sosial
 Teori pertukaran sosial adalah salah satu teori sosial yang mempelajari bagaimana seseorang berhubungan dengan orang lain , kemudian seseorang itu menentukan keseimbangan antara pengorbanan dan keuntungan yang didapatkan dari hubungan itu . Setelah seseorang menentukan keseimbangannya , ia akan menentukan jenis hubungan dan kesempatan memperbaiki hubungan / tidak sama sekali.

Analisis Transaksional
Analisis Transaksional ( AT ) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. AT dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Analisis Transaksional ( AT ) dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960 yang ditulisnya dalam buku Games People Play. Berne adalah seorang ahli ilmu jiwa terkenal dari kelompok Humanisme. Pendekatan analisis transaksional ini berlandaskan teori kepribadian yang berkenaan dengan analisis struktural dan transaksional. Teori ini menyajikan suatu kerangka bagi analisis terhadap tiga kedudukan ego yang terpisah, yaitu : orang tua, orang dewasa, dan anak.
Pada dasarnya teori analisis transaksional berasumsi bahwa orang - orang bisa belajar mempercayai dirinya sendiri, berpikir, dan memutusakan untuk dirinya sendiri, dan mengungkapkan perasaan - perasaannya.

2. Menjelaskan Pembentukan Kesan & Ketertarikan Interpersonal Dalam Memulai Hubungan
Ellen Berscheid, menyatakan bahwa apa yang membuat orang - orang dari berbagai usia merasa bahagia, dari daftar jawaban yang ada, yang tertinggi atau mendekati tertinggi adalah membangun dan mengelola persahabatan dan memiliki hubungan yang positif serta hangat. Tiadanya hubungan yang bermakna dengan orang - orang lain membuat individu merasa kesepian, kurang berharga, putus asa, tak berdaya, dan keterasingan. Ahli Psikologi Sosial, Arthur Aron menyatakan bahwa motivasi utama manusia adalah ’ ekspresi diri ’ (self expression).
Penyebab ketertarikan, dimulai dari awal rasa suka hingga cinta berkembang dalam hubungan yang erat meliputi :

- Aspek kedekatan
- Kesamaan
- Kesukaan timbal balik
- Ktertarikan fisik dan kesukaan

Teori Ketertarikan Interpersonal :

 - Social Exchange Theory
Teori ini mengacu pada pernyataan sederhana bahwa relasi berlangsung mengikuti model ekonomi ‘costs and benefits’ seperti kondisi pasar, yang telah diperluas oleh para psikolog dan sosiolog menjadi teori pertukaran sosial ( social exchange theory ) yang lebih kompleks.
Teori pertukaran sosial menyatakan bahwa perasaan orang tentang suatu hubungan tergantung pada persepsinya mengenai hasil positif ( rewards ) dan ongkos ( costs ) hubungan, jenis hubungan yang mereka jalani, dan kesempatan mereka untuk memiliki hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

- Equity Theory
Beberapa peneliti mengritik teori pertukaran sosial yang mengabaikan pentingnya keadilan atau keseimbangan dalam hubungan. Para pendukung teori ini berpendapat bahwa orang tidak sekedar berusaha mendapatkan rewards sebanyak - banyaknya dan mengurangi costs, melainkan juga peduli mengenai keseimbangan dalam hubungan, yaitu bahwa rewards dan costs yang mereka alami dan kontribusi yang mereka berikan dalam hubungan tersebut kira - kira seimbang dengan pihak lain. Teori ini menggambarkan bahwa hubungan yang seimbang adalah yang membahagiakan dan relatif stabil.

3. Menjelaskan Peran , Konflik dan Adequacy Peran, Autensitas Dalam Hubungan Peran.

Peran
Terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai - nilai social, yang kedudukannya sejajar dengan model - model mengajar lainnya. Keempat asumsi tersebut sebagai berikut :
1. Secara implicit bermain peran mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman. Model ini percaya bahwa sekelompok peserta didik dimungkinkan untuk menciptakan analogy mengenai situasi kehidupan nyata. Terhadap analogy yang diwujudkan dalam bermain peran, para peserta didik dapat menampilkan respons emosional sambil belajar dari respons orang lain.
2. Bermain peran memungkinkan para peserta didik untuk mengungkapkan perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa bercermin pada orang lain. Mengungkapkan perasaan untuk mengurangi beban emosional merupakan tujuan utama dari psikodrama ( jenis bermain peran yang lebih menekankan pada penyembuhan ).
3. Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok. Pemecahan tidak selalu datang dari orang tertentu, tetapi bisa saja muncul dari reaksi pengamat terhadap masalah yang sedang diperankan.
4. Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan dan system keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan.

Konflik
Adanya pertentangan yang timbul di dalam seseorang ( masalah intern ) maupun dengan orang lain ( masalah ekstern ) yang ada di sekitarnya. Konflik dapat berupad perselisihan, adanya ketegangan, atau munculnya kesulitan - kesulitan lain di antara dua pihak atau lebih. Konflik sering menimbulkan sikap oposisi antar kedua belah pihak, sampai kepada mana pihak - pihak yang terlibat memandang satu sama lain sebagai pengahalang dan pengganggu tercapainya kebutuhan dan tujuan masing - masing.

Adequancy Peran & Autentisitas Dalam  Hubungan Peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi ( ketentuan ) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu - individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan - harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran - peran tersebut.

4. Menjelaskan Intimasi & Hubungan Pribadi
Kebutuhan intimacy merupakan suatu kebutuhan akan hubungan dengan orang lain dan merupakan kebutuhan terdalam pada diri setiap manusia untuk mengetahui seseorang secara lebih dekat, seperti merasa dihargai, diperhatikan, saling bertukar pendapat,  keinginan untuk selalu berbagi dan menerima serta perasaan saling memiliki sehingga  terjalin keterikatan yang semakin kuat dan erat.
Faktor penyebab intimacy :
- Keluasan : seberapa banyak aktifitas yg dilakukan bersama
- Keterbukaan : adanya saling keterbukaan diri
- Kedalaman : saling berbagi
Proses terbentukan intimacy :
Penerimaan  diri  ­  Saling  berinteraksi  ­  memberi  respon  atau  tanggapan perhatian rasa percaya  ­ kasih sayang ­ mempunyai  minat yang sama ­ berhubungan seksual.

5. Menjelaskan Intimasi & Pertumbuhan
Apapun alasan untuk berpacaran, untuk bertumbuh dalam keintiman, yang terutama adalah cinta. Keintiman tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita.
Keinginan setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati, dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana belas kasihan dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk bisa terbuka terhadap pasangan kita. Hal ini dapat disebabkan karena :
(1) kita tidak mengenal dan tidak menerima siapa diri kita secara utuh
(2) kita tidak menyadari bahwa hubungan pacaran adalah persiapan memasuki pernikahan
(3) kita tidak percaya pasangan kita sebagai orang yang dapat dipercaya untuk memegang rahasia
(4) kita dibentuk menjadi orang yang berkepribadian tertutup
(5) kita memulai pacaran bukan dengan cinta yang tulus .

B. Cinta dan Perkawinan
            Kebanyakan orang menyukai cerita cinta, termasuk cerita mereka sendiri. Cinta, bagi beberapa orang, merupakan candu kelekatan yang kuat, mencemaskan, dan penuh ketergantungan. Kisah-kisah yang sudah dimulai, sulit diubah karena akan melibatkan interpretasi dan organisasi ulang atas semua yang pasangan telah pahami tentang hubungan mereka (Stenberg, 1995). Menurut subteori Stenberg yang lain, subteori segitiga cinta (triangular subtheory of love) bahwa pola cinta berkisar pada keseimbangan antara tiga elemen yaitu keintiman, gairah, dan komitmen. Selama dua abad ini, pada masyarakat barat dan beberapa non-barat (Goleman, 1992), pernikahan telah dibangun atas dasar cinta. Peribahasa “sifat saling berlawanan saling membuat tertarik” tidak lahir dari penelitian, tapi tidak juga berarti bahwa orang dewasa memilih pasangan yang serupa dengan mereka.

1. Bagaimana memilih pasangan?
Secara historis dan di semua penjuru budaya, cara yang paling lazim memilih pasangan adalah perjodohan, baik oleh orang tua atau pencari jodoh professional. Baru pada masa modern kebebasan memilih pasangan berdasarkan rasa cinta menjadi norma di dunia barat (Broude, 1994;Ingoldsby, 1995). Menurut Stenberg, pasangan cenderung merasa paling bahagia ketika segitiga mereka cukup mendekati cocok (Stenberg, dalam proses cetak). Pasangan menikah bahagia hanya sedikit cocok pada agreeableness dan tidak pada dimensi kepribadian yang lain. Pasangan yang tidak bahagia menunjukkan korelasi yang jauh lebih lemah, baik positif maupun negative. Temuan-temuan ini menunjukkan bahwa kemiripan atau perbedaan kepribadian sedikit berhubungan dengan pemilihan pasangan atau dengan kecenderungan kebahagiaan pernikahan (Gattis et al., 2004). Disisi lain, penelitian Longitudinal Seattle (the Seattle Longitudinal Study), suatu penelitian besar tentang kecerdasan orang dewasa, menemukan fungsi intelektual yang sangat mirip pada pasangan menikah (Schaie, 2005).

2. Seluk beluk hubungan dalam perkawinan
Di kebanyakan masyarakat, lembaga pernikahan dianggap cara terbaik untuk memastikan anak dibesarkan secara baik-baik. Pernikahan memungkinkan pembagian tugas di dalam satuan penggunaan sumber daya dan kerja. Idealnya, pernikahan memberikan keintiman, komitmen, persahabatan, afeksi, pemuasan seksual, dan kesempatan untuk pertumbuhan emosional, juga sebagai sumber identias dan harga diri (Gardiner & Kosmitzky, 2005; Myers, 2000). Dalam beberapa tradisi filsafat Timur tertentu, pernikahan yang harmonis antara laki-laki dan perempuan dianggap penting demi pemuasan spiritual dan bertahan hidupnya spesies (Gardiner & Kosmitzky, 2005). Kini, di banyak bagian Negara-negara industry, keuntungan-keuntungan penting pernikahan, seperti ekspresi seksual, keintiman, dan keamanan ekonomi, tidak terbatas oleh pernikahan. Memang, dengan perubahan pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan, meningkatnya kohabitasi, perceraian, dan pernikahan kembali, dan membesarkan anak diluar pernikahan, dan gerakan meligitimasi pernikahan sesama jenis, seorang peniliti (Cherlin, 2004) melihat tren menuju deinstitusionalisasi pernikahan melemahnya norma-norma social yang sebelumnya membuat pernikahan hampir dipahami secara universal.

3. Penyesuaian dan pertumbuhan dalam perkawinan
Orang-orang yang menikah cenderung lebih bahagia daripada orang yang tidak menikah, walaupun mereka yang pernikahannya tidak membahagiakan lebih tidak bahagia daripada mereka yang tidak menikah atau bercerai (Myers, 2000).
  
4. Perceraian dan pernikahan kembali
Makin tinggi penghasilan perempuan, makin kecil kemungkinan ia bertahan di pernikahan yang buruk dan perempuan sekarang lebih cenderung menginisiasi perceraian daripada laki-laki. Menurut sebuah survei telepon acak terhadap 1.704 individu menikah, kemungkinan terbesar yang mana pun dari pasangan menyebut-nyebut perceraian terjadi ketika sumber daya ekonomi pasangan kurang lebih setara dan tanggung jawab finansial mereka antara satu sama lain relatif kecil (Rogers, 2004). Perceraian melahirkan lebih banyak perceraian. Orang dewasa dengan orang tua yang bercerai lebih cenderung mengantisipasi bahwa pernikahan mereka tidak akan bertahan (Glenn & Marguardt, 2001). Perceraian bukanlah peristiwa tunggal. Perceraian merupakan suatu proses. Mengakhiri bahkan sebuah pernikahan yang tidak bahagia dapat menyakitkan, terutama bila melibatkan anak. Perceraian cenderung mengurangi kesejahteraan jangka panjang, terutama bagi pihak pasangan yang tidak memprakarsai perceraian atau tidak menikah kembali. Satu faktor penting dalam penyesuaian diri adalah pelepasan emosional dari bekas pasangan.
Pernikahan kembali, kata penulis esei Samuel Johnson, “adalah kemenangan harapan atas pengalaman. Secara internasional, angka pernikahan kembali tinggi dan meningkat (Adams, 2004). Keluarga tiri dibangun bukan saja oleh pernikahan kembali tapi juga mulai bertambah oleh mereka yang melakukan kohabitasi. Makin kini pernikahan yang baru dan makin tua anak-anak tiri, makin sulit tampaknya menjadi orang tua tiri. Tetap saja, keluarga tiri berpotensi memberikan suasana yang hangat dan mengasuh, seperti keluarga mana pun yang menyayangi semua anggota keluarganya.
5. Alternatif selain pernikahan “membujang (single life)”
Walaupun ada dewasa awal yang tetap melajang karena mereka belum menemukan pasangan yang tepat, yang lain melajang karena memilih. Makin banyak perempuan sekarang menunjang diri sendiri, dan terdapat lebih sedikit desakan untuk menikah. Beberapa orang ingin tetap bebas mengambil risiko, bereksperimen, dan melakukan berbagai perubahan, berpindah-pindah antara Negara/dunia, mengejar karier, melanjutkan pendidikan mereka/melakukan pekerjaan kreatif tapi harus menguatirkan bagaimana petualangan mereka pemenuhan diri mereka memengaruhi orang lain. Beberapa menikmati kebebasan seksual. Beberapa menganggap gaya hidup tersebut menggairahkan. Beberapa sekedar senang menyendiri dan beberapa menunda/menghindari pernikahan karena takut bahwa pernikahan akan berakhir dengan perceraian. Penundaan masuk akal karena, seperti kita akan lihat, makin muda seseorang ketika menikah, makin besar kemungkinan mereka berpisah.
Sumber :
http://shafashan15.blogspot.com/2012/04/hubungan-interpersonal.html
Adhim, Mohammad Fauzil (2002) Indahnya Perkawinan Dini Jakarta: Gema Insani Press (GIP)
Feldman, Papalia Olds Human Development: Salemba Humanika

Rabu, 01 Mei 2013

Fenomena sosial dalam masyarakat


“MASA REMAJA”

Fase remaja merupakan masa perkembangan individu yang sangat penting. Harold Alberty (1957) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan suatu periode dalam perkembangan yang dijalani seseorang yang terbentang sejak berakhirnya masa kanak-kanak sampai dengan awal masa dewasa. Conger berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa yang amat kritis yang mungkin dapat erupakan the best of time and the worst of time.
Kita menemukan berbagai tafsiran dari para ahli tentang masa remaja :
• Freud menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa mencari hidup seksual yang mempunyai bentuk yang definitif.Charlotte Buhler menafsirkan masa remaja sebagai masa kebutuhan isi-mengisi.Spranger memberikan tafsiran masa remaja sebagai masa pertumbuhan dengan perubahan struktur kejiwaan yang fundamental.
• Hofmann menafsirkan masa remaja sebagai suatu masa pembentukan sikap-sikap terhadap segala sesuatu yang dialami individu.
• G. Stanley Hall menafsirkan masa remaja sebagai masa storm and drang (badai dan topan).
Para ahli umumnya sepakat bahwa rentangan masa remaja berlangsung dari usia 11-13 tahun sampai dengan 18-20 th (Abin Syamsuddin, 2003). Pada rentangan periode ini terdapat beberapa indikator perbedaan yang signifikan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Oleh karena itu, para ahli mengklasikasikan masa remaja ini ke dalam dua bagian yaitu: (1) remaja awal (11-13 th s.d. 14-15 th); dan (2) remaja akhir (14-16 th s.d.18-20 th).
Masa remaja ditandai dengan adanya berbagai perubahan, baik secara fisik maupun psikis, yang mungkin saja dapat menimbulkan problema atau masalah tertentu bagi si remaja. pabila tidak disertai dengan upaya pemahaman diri dan pengarahan diri secara tepat, bahkan dapat menjurus pada berbagai tindakan kenakalan remaja dan kriminal.
Permasalahan yang mungkin timbul pada masa remaja diantaranya :
Problema berkaitan dengan perkembangan fisik dan motorik.
Pada masa remaja ditandai dengan adanya pertumbuhan fisik yang cepat. Keadaan fisik pada masa remaja dipandang sebagai suatu hal yang penting, namun ketika keadaan fisik tidak sesuai dengan harapannya (ketidaksesuaian antara body image dengan self picture) dapat menimbulkan rasa tidak puas dan kurang percaya diri. Begitu juga, perkembangan fisik yang tidak proporsional. Kematangan organ reproduksi pada masa remaja membutuhkan upaya pemuasan dan jika tidak terbimbing oleh norma-norma dapat menjurus pada penyimpangan perilaku seksual.
Problema berkaitan dengan perkembangan kognitif dan bahasa.
Pada masa remaja awal ditandai dengan perkembangan kemampuan intelektual yang pesat. Namun ketika, si remaja tidak mendapatkan kesempatan pengembangan kemampuan intelektual, terutama melalui pendidikan di sekolah, maka boleh jadi potensi intelektualnya tidak akan berkembang optimal. Begitu juga masa remaja, terutama remaja awal merupakan masa terbaik untuk mengenal dan mendalami bahasa asing. Namun dikarenakan keterbatasan kesempatan dan sarana dan pra sarana, menyebabkan si remaja kesulitan untuk menguasai bahasa asing. Tidak bisa dipungkiri, dalam era globalisasi sekarang ini, penguasaan bahasa asing merupakan hal yang penting untuk menunjang kesuksesan hidup dan karier seseorang. Namun dengan adanya hambatan dalam pengembangan ketidakmampuan berbahasa asing tentunya akan sedikit-banyak berpengaruh terhadap kesuksesan hidup dan kariernya. Terhambatnya perkembangan kognitif dan bahasa dapat berakibat pula pada aspek emosional, sosial, dan aspek-aspek perilaku dan kepribadian lainnya.
Problema berkaitan dengan perkembangan perilaku sosial, moralitas dan keagamaan.
Masa remaja disebut pula sebagai masa social hunger (kehausan sosial), yang ditandai dengan adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group). Penolakan dari peer group dapat menimbulkan frustrasi dan menjadikan dia sebagai isolated dan merasa rendah diri. Namun sebaliknya apabila remaja dapat diterima oleh rekan sebayanya dan bahkan menjadi idola tentunya ia akan merasa bangga dan memiliki kehormatan dalam dirinya. Problema perilaku sosial remaja tidak hanya terjadi dengan kelompok sebayanya, namun juga dapat terjadi dengan orang tua dan dewasa lainnya, termasuk dengan guru di sekolah. Hal ini disebabkan pada masa remaja, khususnya remaja awal akan ditandai adanya keinginan yang ambivalen, di satu sisi adanya keinginan untuk melepaskan ketergantungan dan dapat menentukan pilihannya sendiri, namun di sisi lain dia masih membutuhkan orang tua, terutama secara ekonomis. Sejalan dengan pertumbuhan organ reproduksi, hubungan sosial yang dikembangkan pada masa remaja ditandai pula dengan adanya keinginan untuk menjalin hubungan khusus dengan lain jenis dan jika tidak terbimbing dapat menjurus tindakan penyimpangan perilaku sosial dan perilaku seksual. Pada masa remaja juga ditandai dengan adanya keinginan untuk mencoba-coba dan menguji kemapanan norma yang ada, jika tidak terbimbing, mungkin saja akan berkembang menjadi konflik nilai dalam dirinya maupun dengan lingkungannya.
Problema berkaitan dengan perkembangan kepribadian, dan emosional.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Selain yang telah dipaparkan di atas, tentunya masih banyak problema keremajaan lainnya. Timbulnya problema remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Agar remaja dapat terhindar dari berbagai kesulitan dan problema kiranya diperlukan kearifan dari semua pihak.

Penyesuaian diri dan stress


Tugas 2 “Tugas Fortopolio”
A.    Penyesuaian diri
1.      Pengertian Penyesuaian Diri

Makna akhir dari hasil pendidikan seseorang individu terletak pada sejauh mana hal yang telah dipelajari dapat membantunya dalam penyesuaian diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat. Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor-faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.

2.      Konsep Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut  dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.
Dalam kehidupan sehari-hari, Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi terciptanya kesehatan jiwa/mental individu. Banyak individu  yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagiaan dalam hidupnya, karena ketidak-mampuannya dalam menyesuaikan diri, baik dengan kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tidak jarang pula ditemui bahwa orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka untuk melakukan penyesaian diri dengan kondisi yang penuh tekanan. Penyesuaian dapat diartikan atau dideskripsikan sebagai berikut : 
  1. Penyesuaian berarti adaptasi; dapat mempertahankan eksistensinya, atau bisa  survive dan memperoleh kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah, dan dapat mengadakan relasi yang memuaskan dengan tuntutan sosial.
  2. Penyesuaian dapat juga diartikan sebagai konformitas, yang berarti menyesuaikan sesuatu dengan standar atau prinsip.
  3. Penyesuaian dapat diartikan sebagai penguasaan, yaitu memiliki kemampuan untuk membuat rencana dan mengorganisasi respon – respon sedemikian rupa, sehingga bisa mengatasi segala macam konflik, kesulitan dan frustasi-frustasi secara efisien. Individu memiliki kemampuan menghadapi realitas hidup dengan cara yang adekkuatt/ memnuhi syarat.
  4. Penyesuaian dapat diartikan penguasaan dan kematangan emosional. Kematangan emosional maksudnya ialah secara positifmemiliki respon emosional yang tepat pada setiap situasi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungan.

3.      Pertumbuhan Personal
            Manusia merupakan makhluk individu. Manusia itu disebut individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu.

Pertumbuhan adalah proses yang mencakup pertambahan dalam jumlah dan ukuran, keluasan dan kedalaman. Prof. Gessel mengatakan, bahwa pertumbuhan pribadi manusia adalah proses yang terus-menerus. Semua pertumbuhan terjadi berdasarkan pertumbuhan yang terjadi sebelumnya.

Fenomenologi pertumbuhan
Fenomenologi memandang manusia hidup dalam “dunia kehidupan” yang dipersepsi dan diinterpretasi secara subyektif. Setiap, orang mengalami dunia dengan caranya sendiri. “Alam pengalaman setia orang berbeda dari alam pengalaman orang lain.” (Brouwer, 1983:14 Fenomenologi banyak mempengaruhi tulisan-tulisan Carl Rogers, yang boleh disebut sebagai Bapak Psikologi Humanistik. Carl Rogers menggaris besarkan pandangan Humanisme.

A.    Stress

1.      PENGERTIAN STRESS DAN GENERAL ADAPTATION SYNDROMS
Dari sudut pandang ilmu kedokteran, menurut Hans Selye seorang fisiologi dan pakar stress yang dimaksud dengan stress adalah suatu respon tubuh yang tidak spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya.Jadi merupakan repons automatik tubuh yang bersifat adaptif pada setiap perlakuan yang menimbulkan perubahan fisis atau emosi yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi fisis yang optimal suatu organisme. Dari sudut pandang psikologis stress didefinisikan sebagai suatu keadaan internal yang disebabkan oleh kebutuhan psikologis tubuh atau disebabkan oleh situasi lingkungan atau sosial yang potensial berbahaya, memberikan tantangan, menimbukan perubaha-perubahan  atau memerlukan mekanisme pertahanan seseorang. Suwondo(1996) mendifinisikan stess sebagai suatu keadaan psikologik yang merupakan representatif dari transaksi khas dan problematika antara seseorang dengan lingkungannya. Menurut Hans Selya membagi stress membagi stress dalam 3 tingkatan :
a.       Eustress adalah respon stress ringan yang menimbulkan rasa bahagia, senang, menantang, dan menggairahkan. Dalam hal ini tekanan yang terjadi bersifat positif, misalnya lulus dari ujian, atau kondisi menghadapi suatu perkawinan.
b.      Distress merupakan respon stress yang buruk dan menyakitkan sehingga tak mampu lagi diatasi.
c. Optimal stress atau Neustress adalah stress yang berada antara eustress dan distres,merupakan respon stress yang menekan namun masih seimbang untuk menghadapi masalah dan memacu untuk lebih bergairah, berprestasi, meningkatkan produktivitas kerja dan berani bersaing.

Reaksi fisiologis tubuh terhadap perubahan-perubahan akibat stress disebut sebagai general adaption syndrome, yang terdiri dari tiga fase:
a. Alarm reaction(reaksi peringatan) pada fase ini tubuh dapat mengatasi stressor(perubahan) dengan baik. Apabila ada rasa takut atau cemas atau khawatir tubuh akan mengeluarkan adrenalin, hormon yang mempercepat katabolisme untuk menghasilkan energi untuk persiapan menghadapi bahaya mengacam. Ditambah dengan denyut jantung bertambah dan otot berkontraksi.
b.  The stage of resistance( reaksi pertahanan). Reaksi terhadap stressor sudah mencapai atau melampaui tahap kemampuan tubuh. Pada keadaan ini sudah dapat timbul gejala-gejala psikis dan somatis. Respon ini disebut juga coping mechanism. Coping berarti kegiatan menghadapi masalah, misalnya kecewa diatasi dengan humor, rasa tidak senang dihadapi dengan ramah dan sebagainya
c. Stage of exhaustion( reaksi kelelahan). Pada fase ini gejala-gejala psikosomatik tampak dengan jelas. Gejala psikosomatis antara lain gangguan penceranaan, mual, diare, gatal-gatal, impotensi, exim, dan berbagai bentuk gangguan lainnya. Kadang muncul gangguan tidak mau makan atau terlalu banyak makan.

2.      PENYEBAB STRESS

1. Faktor Ekonomi
Uang dan masalah-masalah ekonomi selalu di pikiran orang. Seiring dengan krisis ekonomi global, Anda harus berurusan dengan krisis pribadi Anda. Biaya hidup, pinjaman tertunda dan ketidakpastian ekonomi secara umum adalah penyebab paling umum dari stres orang di seluruh dunia.
2. Kerja berlebihan sehingga menjadi stres
Dalam era teknologi modern dengan laptop, tablet dan Internet di mana-mana, kewajiban bekerja tidak pernah berakhir. Anda bisa bersantai di pantai yang eksotis, tetapi Anda harus mengirim email. Jika Anda tidak, salah satu pesaing Anda akan mengambil client Anda sehingga Anda kehilangan pelanggan. Waktu luang menyusut dan orang-orang yang menghabiskan waktu yang kurang untuk diri mereka sendiri dan orang-orang yang mereka cintai.
3.      Kepuasan kerja
Dalam masa krisis ekonomi dan lapangan kerja, Anda tidak memiliki pilihan yang banyak untuk pekerjaan. Pengangguran meningkat dan meskipun Anda tidak menyukai pekerjaan Anda, Anda bosan dan tidak tertarik, Anda tidak bisa berhenti.
4. Hubungan pribadi
Hubungan manusia yang sulit dan ketegangan kehidupan sehari-hari yang menyebabkan perselisihan dan perkelahian. Keuangan keluarga, masalah seksual, serta kurangnya waktu untuk pasangan Anda dan anak-anak menghasilkan stres dan Anda tidak berada dalam posisi untuk menemukan solusi.
5. Perawatan keluarga
Merawat keluarga Anda adalah tanggung jawab besar. Apakah mereka adalah anak-anak muda atau orang tua, mereka membutuhkan pemantauan ketat. Anda tidak harus melupakan pengobatan kakek-nenek, anak-anak harus pergi ke sekolah dan mempersiapkan diri untuk ujian. Ini hanya beberapa contoh dari kewajiban sehari-hari yang tidak memungkinkan waktu untuk relaksasi. Bukan hanya itu tetapi ini stres terus menerus juga menyebabkan masalah dengan tidur Anda dan Anda berakhir dalam lingkaran setan tak berujung.
6. Tekanan untuk liburan
Untuk mempersiapkan seluruh keluarga untuk liburan, dan tidak meninggalkan tugas-tugas yang belum selesai atau untuk mempersiapkan acara keluarga (pesta ulang tahun untuk anak-anak) tampaknya seperti beban yang menggunung. Masa persiapan yang lebih stres daripada santai dan meriah.
7. Anda tidak pernah mengatakan TIDAK 
Anda takut untuk mengatakan TIDAK. Apakah itu untuk tanggung jawab pribadi, keluarga atau pekerjaan Anda tidak dapat menolak tugas yang diberikan untuk pekerjaan yang harus dilakukan. Salah! Anda mencoba untuk memuaskan semua orang lain, sementara tidak meninggalkan waktu untuk diri sendiri. Kewajiban Anda lakukan berada di luar apa yang Anda dapat tangani dan hal ini menciptakan lebih banyak stres
8. Kurangnya waktu yang berkualitas 
Anda tidak punya waktu untuk melihat teman-teman Anda dan orang yang Anda cintai. Anda tidak punya waktu luang untuk diri sendiri tidak menyebutkan waktu yang berkualitas untuk melakukan hal-hal yang Anda sukai. Tindakan - tindakan ini meminimalkan kesempatan Anda untuk melarikan diri dari stres dan ketegangan.

9. Terobsesi dengan kesempurnaan
Anda ingin melakukan semuanya sempurna. Membuat kesalahan adalah ketakutan terburuk dan hal ini menciptakan lebih banyak stres. Ini obsesi dengan kesempurnaan, tidak meninggalkan Anda waktu untuk memikirkan hal-hal lain selain target Anda dan Anda akhirnya kehilangan dirimu.
10. Kurangnya minat
Anda memulai tugas baru dan bosan. Anda menetapkan tujuan baru tapi berhenti di tengah. Anda tidak memiliki gairah atau motivasi untuk melakukan sesuatu. Ini akan memberikan Anda kekecewaan dan mendorong Anda dalam keputusasaan. Anda kehilangan nafsu makan dan tidur dan ini memperburuk situasi.
11. Gangguan dan kebingungan
Ketika semuanya tidak teratur, tidak berjalan lancar. Rumah berantakan, di kantor banyak tekanan dan perasaan bahwa semuanya sangat kacau dapat menyebabkan Anda menjadi lebih mudah stress. Perasaan ini memiliki kemampuan ajaib untuk menahan Anda dan mengingatkan kita tentang kejadian - kejadian yang sudah terjadi yang akan menambah stress pada diri Anda. Bahkan jika Anda ingin melarikan diri, situasi lingkungan Anda tidak akan mengijinkan.

SYMPTOM-REDUCING RESPONSES STRESS,MEKANISME PERTAHANAN DIRI, DAN STRATEGI COPING
Respon terhadap Stress, menyangkut Defense Mechanism menurut Lazarus (dalam Santrock, 2003 : 566) penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
1. Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
2. Coping yang berfokus pada emosi (problem-focused coping)adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.
Lazarus (1996), Coping: upaya manusia dalam mengatasi masalah atau menangani
emosi yang umumnya neggatif atau merespon situasi penuh stres.
(Roesch & Weiner, 2001), Coping berupa pelarian/penghindaran (misalnya berharap bahwa situasi akan berakhir dengan sendirinya) merupakan metode coping yang paling tidak efektif untuk mengadapi banyak masalah kehidupan. Banyak orang meyakini bahwa tidak mungkin mendefinisikan secara objektif peristiwa atau situasi untuk  dapat dikategorikan sebagai stresor psikologi (a.l., Lazarus, 1966). Mereka menekankan aspek kognitif stres, yaitu, mereka meyakini bahwa cara kita menerima atau menilai lingkungan menentukan apakah terdapat suatu stresor. Coping ini secara bahasa mempunyai makna menanggggulangi, menerima menguasai segala sesuatuyang berangkutan dengan diri kita sendiri. Untuk mengendalikan emosi bisa dilakukan dengan banyak cara, diantaranya dengan model penyesuaian, pengalihan dan coping. Strategi coping itu sendiri dapat diartikan sebuah cara atau prilaku individu untuk menyelesaikan  suatu permasalahan.sedangkan macam-macam copng itu sendiri menurut Santrock (1996) :
1.      strategi pendekatan (approach strategy)
yaitu usaha kogntif untuk memahami penyebab stres atau stressor dan  usaha untuk menangani hal tersebut dengan cara menghadapinya.
2.      strategi menghindar (avoidance strategy)
yaitu usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisir stessor yang muncul dalam prilaku dengan cara menghindar dari hal tersebut
Bentuk-bentuk strategi coping yaitu :
1.      perilaku coping yang beorientasi pada masalah (problem focused coping-PFC) yaitu strategi kognitif dalam penanganan stress/ strategi kognitif yang digunakan individu dalam rangka menangani masalahnya.
2.      perilaku coping yang berorientasi pada emosi (emotion focused coping-EFC) yaitu strategi penanganan stress dimana individu  memberikan respon terhadap situasi stress dengan cara emosional.
faktor yang mempengaruhi coping :
1.      karakteristik situasional
2.      faktor lingkungan
3.      faktor personal atau perbedaan individu
5. PENDEKATAN PROBLEM SOLVING STRESS, MENINGKATKAN TOLERANSI  STRESS
          Kita mengatasi rasa stress itu dengan cara kita mencari penyebab stress itu sendiri (stressor) setelah kita tau penyebabnya kita harusbisa memilih mana jalan keluar terbaik untuk masalah kita,kalo perlu meminta bantuan orang lain. Misalnya kita baru mengalami putus cinta,lalu kita merasakan stress dan kita pun tau kalau untuk melanjutkan hubungan tersebut tidak mungkin lagi,nah darisitu kita bisa mengambil keputusan kalau memang orang itu bukan yang terbaik untuk kita,apa salahnya kita mencoba dengan orang baru dalam kehidupan kita. Atau tidak kita cerita kepada semua teman-teman kita yang bisa di percaya mungkin itu bisa sedikit menenangkan hati kita dan mengurangi rasa stress kita. Manusia adalah makhluk kompleks yang berada dalam kehidupan yang kompleks pula. Kompleksitas kehidupan berpotensi menimbulkan stres, dan  menuntut seseorang untuk mengatasinya.  Cara seseorang mengatasi stres dapat dikelompokkan menjadi dua kategori. Pertama, cara ini merupakan cara yang spontan dan tidak disadari, dimana pengelolaan stres berpusat pada emosi yang dirasakan. Dalam istilah psikologi diklasifikasikan sebagai defense mechanism. Beberapa perilaku yang tergolong kedalam kelompok ini adalah:
1.      Acting out, yaitu menampilkan tindakan yang justru tidak mengatasi masalah. Perilaku ini lebih sering terjadi pada orang yang kurang mampu mengendalikan/menguasai diri, misalnya merusak barang-barang di sekitarnya.
2.      Denial, yaitu menolak mengakui keadaan yang sebenarnya. Hal ini bisa bermakna positif, bisa pula bermakna negatif. Sebagai contoh, seseorang guru menyadari bahwa dirinya memiliki kelemahan dalam berbahasa Inggris, namun ia terus berupaya untuk mempelajarinya; bisa bermakna positif bila dengan usahanya tersebut terjadi peningkatan kemampuan; bermakna negatif bila kemampuannya tidak meningkat karena memang potensinya sangat terbatas, namun ia tetap berusaha sampai mengabaikan pengembangan potensi lain yang ada dalam dirinya.
3.      Displacement, yaitu memindahkan/melampiaskan perasaan/emosi tertentu pada pihak/objek lain yang benar-benar tidak ada hubungannya namun dianggap lebih aman. Contohnya: Seorang guru merasa malu karena ditegur oleh Kepala Sekolah di depan guru-guru lain, maka ia melampiaskan perasaan kesalnya dengan cara memarahi murid-murid di kelas.
4.     Rasionalisasi, yaitu membuat alasan-alasan logis atas perilaku buruk. Contohnya: Seorang Kepala Sekolah yang tidak menegur guru yang membolos selama 3 hari mengatakan bahwa ia tidak menegur guru tersebut karena pada saat itu ia sedang mengikuti pelatihan untuk kepala sekolah di ibukota provinsi. Kedua, cara yang disadari, yang disebut sebagai direct coping, yaitu seseorang secara sadar melakukan upaya untuk mengatasi stres. Jadi pengelolaan stres dipusatkan pada masalah yang menimbulkan stres. Ada dua strategi yang bisa dilakukan untuk mengatasi stres, yaitu:
1.      Meningkatkan toleransi terhadap stres, dengan cara meningkatkan keterampilan/kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan diri sendiri bahwa stres memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda. Secara fisik: mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup gizi, menonton acara-acara hiburan di televisi, berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, dan sebagainya.
2.      Mengenal dan mengubah sumber stres, yang dapat dilakukan dengan tiga macam pendekatan, yaitu:  (a) bersikap asertif, yaitu berusaha mengetahui, menganalisis, dan mengubah sumber stres. Misalnya: bila ditegur pimpinan, maka respon yang ditampilkan bukan marah, melainkan menganalisis mengapa sampai ditegur; (b)  menarik diri/menghindar dari sumber stres. Tindakan ini biasanya dilakukan bila sumber stres tidak dapat diatasi dengan baik. Namun cara ini sebaiknya tidak dipilih karena akan menghambat pengembangan diri. Kalaupun dipilih, lebih bersifat sementara, sebagai masa penangguhan sebelum mengambil keputusan pemecahan masalah; dan (c) kompromi, yang bisa dilakukan dengan konformitas (mengikuti tuntutan sumber stres, pasrah) atau negosiasi (sampai batas tertentu menurunkan intensitas sumber stres dan meningkatkan toleransi terhadap stres). 

 Sumber :  
Sunarto & Hartono, B. Agung. (1995). Perkembangan peserta didik. Jakarta: Rineka Cipta Wahjosumidjo.
http://www.e-jurnal.com/pengantar-psikologi-perkembangan/
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2012/03/perkembangan-menurut-psikologi.html
Chaplin,J.P. (a.b. Kartini Kartono). (2001).  Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers